Sejarah dalam Toponimi Jampang

Rifaldi Efriansyah penulis Sejarah dalam Toponimi Jampang

Sejarah dalam Toponimi JampangOleh: Rifaldi EfriansyahSurade | Sukabumi

Jampang adalah daerah yang berada di bagian selatan kabupaten Sukabumi. Saat ini, di kabupaten Sukabumi nama Jampang dipakai dalam dua kecamatan yaitu Jampangkulon dan Jampangtengah. Kawasan Pakidulan Sukabumi meskipun tidak semua (secara administratif) masuk kedalam kecamatan Jampangkulon atau Jampangtengah tetapi sebutan sebagai daerah Jampang begitu melekat, salah satunya adalah Surade tempat di mana saya berasal. Rupanya di sini Jampang sudah menjadi bagian dari identitas daerah Pakidulan Sukabumi (Pajampangan), daerah yang memiliki sejarah panjang dengan toponimi Jampang, yang sebenarnya apabila dirunut berdasarkan sejarah dan dibandingkan pada masa sekarang, daerah Jampang cukup luas, terdiri dari sejumlah kecamatan di kabupaten Sukabumi bahkan sebagian lainnya di kabupaten Cianjur.
Jampang juga dikenal dalam cerita rakyat Betawi, sebagai seorang pendekar yaitu Abang Jampang, di mana julukan Jampang ini diambil dari daerah asal ibunya, Jampang (Sukabumi). Nama Jampang digunakan untuk merepresentasikan karekter pemberani, sakti, dan peduli terhadap rakyat kecil. Pada era-kolonialisme permulaan abad ke-18, Jampang memang dikenal akan keberanian dan kesaktian para jawaranya, yang bergerilya melawan kompeni (VOC) yang mulai menancapkan taring penjajahan terutama pada rakyat kecil di Priangan. Perlawanan heroik rakyat Jampang ini dipimpin oleh ulama Jampang yaitu Raden Alit Haji Prawatasari, tak tanggung, Haji Prawatasari menggerakan sekitar 3000 rakyat Jampang untuk bergerilya, pada waktu itu jumlahnya terbilang besar, yang membuat VOC kewalahan karena jumlahnya terus bertambah dan kecerdikan taktik perangnya. Hal demikian tidak mengherankan, karena sudah sejak bearabad-abad yang lalu, sebelum perlawanan Haji Prawatasari, daerah Jampang (Jampang Kulon-Surade) dikenal sebagai pusatnya pendidikan militer kerajaan Pajajaran, dan tempat untuk meningkatkan ilmu kanuragan para raja-raja Sunda-Galuh, salah satu yang terkenal adalah Prabu Kuda Lalean atau Mangkubumi Suradipati Bunisora adik dari Prabu Wangi Linggabuana. Prabu Kuda Lalean adalah seorang resi dan raja (panyelang) Sunda-Galuh yang bergelar Bataraguru Jampang karena menjadi petapa yang ulung di Jampang dan pernah mendirikan padepokan di sana, sekitar abad ke-13.
Namun Jampang sebagai toponimi sudah ada sekitar abad ke-7 atau mungkin bisa lebih awal lagi. Sehingga toponimi Jampang ini kaya akan sejarah dan berbagai kisah purbakala di Priangan. Akan tetapi, tidak banyak diketahui orang saat ini karena terjadi dinamika zaman yang berubah-ubah, seperti di antaranya pemekaran wilayah administratif di Priangan yang melahirkan toponimi-toponimi baru yang menyeret dan mempersempit sejarah serta toponimi purba Jampang. Di sisi lain, Jampang ternyata masih dipahami sebagai wilayah historis oleh sebagian masyarakat secara sadar maupun tidaksadar. Toponimi Jampang dan sejarahnya yang komprehensif sangat jarang ditemukan, beranjak dari fenomena ini, sehingga saya tertarik untuk menuliskannya, daerah asal saya ini, sebuah catatan sejarah dalam toponimi Jampang.
Toponimi adalah ilmu tentang asal-usul nama pada suatu tempat, toponimi berasal dari bahasa Yunani yaitu “topos” yang berarti tempat dan “onoma” yang berarti nama. Nama merupakan suatu tanda atau symbol yang dijadikan sebagai identitas untuk suatu entitas dan fungsi dasarnya adalah membedakan dengan entitas lainnya. Sementara tempat yang telah diberi nama merupakan suatu ruang yang memiliki batasan serta ukuran. Suatu toponimi tidak bisa lepas dari sejarah (ruang dan waktu) aspek geografis dan kehidupan masyarakat. Jacub Rais mengatakan bahwa di balik sebuah nama daerah selalu terdapat cerita di dalamnya, dari masyarakatnya.
Dengan demikian untuk menelusuri makna dan asal usul suatu nama daerah pertama-tama harus memahami sejarahnya secara mendalam seperti memeriksa naskah-naskah, melihat rupa buminya, mencari informan, dan cerita rakyat (folklor) serta dipahami secara kronologis-diakronik, sebab seringkali nama pada suatu tempat dipengaruhi oleh suatu unsur dan dapat mempengaruhi pada nama unsur-unsur lainnya seperti flora dan fauna, produk kebudayaan, maupun ketokohan. Apalagi untuk toponimi yang ada sejak lama, sudah barang tentu banyak mempengaruhi nama-nama berbagai unsur. Toponimi purbakala salah satunya adalah “Jampang” yang merupakan toponimi di pulau Jawa yang tercatat pada naskah-naskah kuno dan tertutur dalam pantun-pantun Sunda buhun (cerita tutur).
Etimologi Jampang bisa berasal dari kata Jampa dengan tambahan –“ng” yang mengindikasikan suatu tempat. penamaan sejenis ini merupakan pengaruh dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia (Sunda-Sulawesi), seperti Kendeng (nama gunung) berasal dari kata khandha (Pali Budha) dengan tambahan “ng” di akhir kalimat, atau Padang, berasal dari kata Pada. Jampa atau bertransformasi menjadi Jampe yang memiliki akar kata Japya dari bahasa sangsekerta, yang berarti doa (invocation). Secara etimologis Jampang memiliki arti “tempat untuk berdoa”. tak ayal tempat-tempat di Jampang dari zaman kerajaan Sunda-Galuh sampai Pajajaran menjadi tempat untuk meminta sesuatu kepada Sang Pencipta, biasanya dengan cara bertapa, puasa, dan tradisi lainnya. Keinginan yang dipanjatkan umumnya pada masa itu adalah petunjuk, kesaktian (ilmu kanuragan), maupun kepuasan spritual. Jampang dari aspek geologinya begitu mendukung, seperti hutan, gua, pantai selatan, sungai dan airterjun, serta perbukitan dan tinggian Jampang Plateau (tebing Lembah Ciletuh) yang dapat membawa pada frequensi spiritual yang penuh kedamaian.
Toponomi Jampang juga terdapat dalam cerita Ciung Wanara dalam catatan Raffles (1817 : hlm.103). Ciung Wanara dan saudaranya Hariang Banga atau Ariya Banga merupakan seorang tokoh purbakala dalam sejarah Jawa, mereka adalah putra dari Raja Galuh Purba pada abad ke-7 Masehi. Dikisahkan terjadi pertempuran hebat antara kedua saudara ini yang berakhir di Cipamali (Kalibrebes) tanpa ada yang menang maupun yang kalah, Ciung Wanara dan Hariang Banga sama-sama kuat. Selama pertempuran ini tercipta juga toponimi “Pakuan Pajajaran”, dari tanaman paku yang berjajar dan “Majapahit” berasal dari buah maja yang pahit yang dimakan Ciung Wanara. setelah pertempuran berakhir, Ciung Wanara kembali ke Bojong (Hujung) Galuh sementara Hariang Banga meneruskan perjalanannya ke Majapahit.
Singkat cerita, Ciung Wanara diberi sejenis jaket yang terbuat dari kulit kera hitam oleh bapaknya, Guru Putra Hinga Baya. Kemudian setelah memakainya, dengan segera Ciung Wanara berubah menyerupai binatang tersebut, dengan diberikan gelar sebagai “Guru Minda-sida tanda Prabu Lutung Kasarung” dan diberikan benih-benih padi lalu mengangkat Ki Jampang menjadi pengikutnya. Guru Minda dan Ki Jampang menebarkan benih-benih padi di berbagai tempat, membagikannya kepada seluruh rakyat-rakyat miskin. Sampai meneruskannya ke daerah pantai selatan, yang disebut Kedu Pondok (Kadu Pandak), di mana waktu itu Ki Jampang ditinggalkan dan mendiami wilayah tersebut, sehingga nama tempat itu kemudian dipanggil Jampang atau Cutak Jampang dari nama Ki Jampang.
Tokoh Ki Jampang yang menjadi toponimi Jampang dalam cerita ini masih misterius, begitupun dengan sumbernya yang langka, sehingga masih menjadi pertanyaan tentang asal-usulnya, tetapi pada waktu kemudian Ki Jampang dipanggil sebagai “Purwa Kala” (Raffles, 1817 : hlm.104). nama Kedu Pondok atau Kadu Pandak yang menjadi tempat kediaman Ki Jampang setelah ditinggalkan oleh Guru Minda di daerah pantai selatan, kini masih digunakan sebagai nama desa dan kecamatan, Kadupandak, di kabupaten Cianjur selatan, yang dahulunya adalah distrik Jampang Wetan.
Jampang atau Cutak Jampang adalah wilayah dari kerajaan Pajajaran terakhir yang tersisa setelah adanya penyerangan oleh pasukan Banten ke Pakuan, Ibu Kota Pajajaran, sekaligus menandakan runtuhnya Pajajaran pada tahun 1579 M. Di dalam pantun Bogor maupun cerita rakyat Pajampangan. Para punggawa kerajaan yang setia ikut melarikan diri bersama Raja dan kerabatnya ke wilayah selatan Jampang, yang saat ini diperkirakan sekitar Tegal Buleud-Ujunggenteng di pesisir selatan, yang memungkinkan mereka menjadi bagian masyarakat awal di tanah Jampang, walaupun sebelumnya, diceritakan Mangkubumi Suradipati Bunisora mendirikan padepokan di tanah Jampang, dan telah ada kehidupan di sana.
Toponimi Jampang dapat dimaknai secara etimologis atau kisah dalam Ciung Wanara, dan memungkinkan ada sejarah lainnya. Setidaknya nama Jampang sudah tidak asing lagi di tatar Priangan. Jampang pada masa kerajaan Sunda-Galuh atau Pajajaran adalah Cutak Jampang, semacam distrik atau kabupaten di bawah kerajaan, serta menjadi cikal-bakal dari distrik Jampang pada era kolonialisme. Wilayah Jampang sebagai distrik atau cutak bisa dilihat dari peta-peta kuno yang dibuat oleh orang Eropa, contohnya peta karya Stockdale diterbitkan tahun 1811 atau peta Junghuhn yang lebih lengkap lagi, diterbitkan tahun 1855. Dalam kedua peta tersebut ditampakan daerah Jampang, dan Batasan-batasannya. Jampang bermula dari Teluk Palabuhanratu (selatan Cimandiri) terus mengikuti aliran sungai Cimandiri, melalui pegunungan Kendeng (Sungai Cisokan), sampai ke Gunung Patuha lalu ke arah selatan mengikuti aliran sungai Cisadea, dan dibatasi oleh samudera hindia di arah selatan.
Permukaan bumi Jampang waktu itu cukup luas, sehingga dibagi kepada tiga distrik pertama distrik Jampang Kulon, dari arah barat Jampang sampai dibatasi sungai Cikaso beribukota di Bandar Sari (sekitar daerah Lengkong). kedua Distrik Jampang Tengah beribukota di Sagaranten, wilaya distrik Jampang Tengah bermula dari sungai Cikaso ke timur, dibatasi sungai Cibuni di arah selatan dan dibatasi oleh sungai Palabulan di arah utara, sekarang perbatasan antara Kabupaten Sukabumi dan Cianjur. Ketiga adalah distrik Jampang Wetan, bermula dari batas distrik Jampang Tengah, dibatasi sungai Cisadea di arah selatan, ke gunung Patuha, lalu menyusur sungai Cisokan dan pegunungan Kendeng sampai berbatasan dengan daerah Cikondang. Lebih presisinya bisa dilihat peta yang saya perjelas dalam gambar diatas, yang merujuk ke peta Junghuhn.

References:
Raffles, Thomas Stamford. (1817). The History of Java, 2 vol. London: Block Parbury and Allen and John Murry.
Junghuhn, Frans. (1853-1854). Java, zijne gedaante, zijn plantentooi, en Inwendige bouw. F. S-Gravenhage: C.W. Mieling.
Stockdale, J.J. (1812). Sketches, Civil and Military, of the Island of Java and Its Immediate Dependencies. London: S. Gosnell,
Adiwisastra, M.H. (1922). Babad Djampang. Weltevreden: Commissie Voor de Volkslectuur.
Rigg, Jonathan. (1862). A Dictionary of The Sunda Language of Java. Batavia: Lange and CO.

Posting Komentar

0 Komentar